Welcome to dr. Primandono Perbowo, SpOG (K) Onk
Diposting pada: 11 Dec 2025 | Dibaca: 163 kali
Histeroskopi adalah prosedur endoskopik minimal invasif yang menggunakan histeroskop (alat optik tipis dengan kamera dan sumber cahaya) yang dimasukkan melalui vagina dan serviks untuk memvisualisasikan dan/atau melakukan intervensi di dalam rongga uterus (rahim).
I. Histeroskopi Diagnostik
Histeroskopi diagnostik dilakukan untuk pemeriksaan visual dan penegakan diagnosis kelainan intrauterin.
A. Prosedur
1. Akses: Spekulum dapat digunakan untuk memvisualisasi serviks; dilanjutkan dengan pemasangan histeroskop berdiameter kecil (sering $3$ mm hingga $5$ mm) melalui ostium uteri eksternum.
2. Distensi: Rongga uterus dilebarkan (distensi) menggunakan media cair (misalnya, saline steril atau Ringer Laktat) atau gas $ ext{CO}_2$ untuk memastikan visualisasi endometrium, ostium tuba, dan dinding rahim yang optimal.
3. Visualisasi: Dokter mengevaluasi keseluruhan rongga rahim, mencari kelainan struktural atau patologis.
B. Kegunaan (Indikasi Diagnostik)
Perdarahan Uterus Abnormal (PUA): Investigasi penyebab PUA, termasuk perdarahan post-menopause atau menorrhagia (perdarahan haid berat).
Kelainan Intrauterin: Deteksi dan lokalisasi polip endometrium, mioma submukosa, dan adanya septum atau anomali kongenital lainnya.
Infertilitas dan Keguguran Berulang: Evaluasi kondisi rongga rahim sebagai faktor penyebab, termasuk kemungkinan adanya adhesi (Sindrom Asherman).
Evaluasi Pencitraan: Konfirmasi atau tindak lanjut dari temuan ultrasonografi (USG) atau Histerosalpingografi (HSG) yang mencurigakan.
Pencarian Benda Asing: Menentukan posisi Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR/IUD) yang sulit ditemukan.
II. Histeroskopi Operatif
Histeroskopi operatif dilakukan untuk penanganan atau terapi definitif terhadap kelainan yang terdeteksi, biasanya menggunakan histeroskop yang lebih besar ($6$ mm hingga $10$ mm) dengan saluran kerja (working channel) untuk instrumen bedah.
A. Prosedur
1. Persiapan: Dilakukan di bawah anestesi regional atau umum. Serviks mungkin perlu didilatasi terlebih dahulu.
2. Distensi: Menggunakan media cair yang sesuai dengan instrumen yang digunakan (misalnya, cairan non-elektrolit jika menggunakan alat energi monopolar). Pengelolaan tekanan distensi cairan sangat krusial untuk mencegah komplikasi kelebihan cairan (fluid overload).
3. Intervensi: Instrumen bedah, seperti resektoskop, gunting, forceps, atau serat laser, dimasukkan melalui histeroskop untuk melakukan tindakan.
4. Pengangkatan/Koreksi: Jaringan abnormal diangkat atau dikoreksi di bawah pengawasan visual langsung.
B. Kegunaan (Indikasi Operatif)
Polipektomi dan Miomektomi: Pengangkatan polip endometrium dan mioma submukosa (reseksi mioma submukosa).
Lisis Adhesi: Pemisahan adhesi atau jaringan parut intrauterin (pengobatan Sindrom Asherman).
Metode Korektif: Koreksi anomali kongenital, seperti pemotongan sekat rahim (septum uteri).
Ablasi Endometrium: Penghancuran lapisan endometrium sebagai penanganan definitif untuk PUA yang refrakter terhadap terapi medis.
Ekstraksi Benda Asing: Pengeluaran IUD atau fragmen tulang yang tertahan (retained bone fragments).
Sterilisasi Histeroskopik: Penempatan mikro-implank di ostium tuba falopi.
III. Keunggulan Umum
Histeroskopi, baik diagnostik maupun operatif, menawarkan keuntungan utama minimal invasif, pemulihan cepat (rapid recovery), dan memungkinkan visualisasi langsung patologi intrauterin. (*)